PPSKI Tentang Daging Sapi: Harga itu Indikator yang Tidak Bisa Dibohongi

Program Sapi Indukan Wajib Bunting (Siwab) kurang efektif untuk meningkatkan produksi dan menekan impor daging sapi tahunan. Dan kebijakan untuk mengimpor sapi indukan untuk membantu pengembangbiakan produksi dalam negeri juga terbukti gagal. 

Pasalnya, kekurangan pasokan daging sapi di Indonesia cukup besar dan memicu besarnya volume impor ternak dari berbagai negara. Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kebijakan impor tersebut tidak terealisasi dengan optimal. Alasannya, karena keterbatasan anggaran dan populasi sapi indukan dari negara asal yang tidak mencukupi.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan tengah mencari terobosan baru untuk mencapai swasembada daging sapi. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, Presiden Joko Widodo telah menginstrusikan kepada Kementerian Pertanian untuk mendata ulang neraca daging sapi di dalam negeri. Kekurangan yang didapat, harus segera diintervensi Kementan agar dapat menekan angka impor daging sapi yang terus meningkat.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Rochadi Tawaf menilai, keberhasilan peningkatan produksi daging sapi semestinya terlihat dari menurunnya harga. Namun, dalam tiga tahun terakhir, harga cenderung stagnan. Harga itu indikator yang tidak bisa dibohongi Oleh sebab itu, PPSKI meminta pemerintah harus realistis dan jangan lagi membesar-besarkan data.

Menurutnya, hanya sapi lokal yang bisa diandalkan, oleh sebab itu harus diprioritaskan untuk terus dipacu produktivitasnya. Upaya mencapai swasembada daging sapi juga harus dilakukan secara terukur dan tidak terburu-buru karena membutuhkan proses panjang.

Stagnasi daging sapi dalam beberapa tahun terakhir bisa jadi karena bertambahnya ketersediaan daging di dalam negeri. Namun, yang perlu dicatat ialah adanya pemasukan impor daging kerbau yang volumenya terus ditambah. Dengan kata lain, stagnasi harga bukan diakibatkan kenaikan produksi sapi, namun karena impor.

Jika biaya produksi yang tinggi dinilai sebagai penghambat turunnya harga ketika produksi naik, Rochadi menilai hal itu pun bisa terjadi. Namun bisa dipastikan akan ada keseimbangan harga yang baru. Semuanya tergantung supply-demand.

 

Sumber: republika.co.id