Berita Tentang PPSKI

Untuk tujuan stabilisasi harga daging sapi, pemerintah memberikan jatah kuota impor pada sejumlah perusahaan swasta. Izin tersebut berupa impor daging beku jenis secondary cut sebesar 23.200 ton.

-------------------------------------------------

Tanggapan PPSKI melalui SekJen Rochadi Tawaf

Hingga saat ini, para importir lama, termasuk yang masuk asosiasi importir,  tidak pernah mendapat jatah impor secondary cut. Mereka hanya diizinkan mengimpor daging prime cut yang harganya lebih mahal. Pasarnya pun dibatasi hanya untuk hotel, restoran, dan katering.

Selengkapnya...

Sebagai upaya stabilisasi harga daging sapi, Kemendag ternyata telah menunjuk PT Evita Manunggal untuk mengimpor, menggelar operasi pasar dan mendistribusikan daging sapi. Per tanggal 27 Mei 2016, izin Impor Daging Sapi untuk PT Evita Manunggal yang beralamat di  Jalan KH Noer Alie Ruko Kalimalang  Square Blok N No.17, Bekasi Selatan telah diterbitkan Kemendag.

Total quota yang diberikan mencapai 9.000 ton dengan rincian sebagai berikut : Secondary Cuts sebanyak 5.200 ton, manufacturing sebanyak 800 ton, prime cut sebanyak 900 ton, variety sebanyak 1.100 ton dan carcas sebanyak 1.000 ton. Kepada perusahaan tersebut, Kemendag memberikan batas waktu hingga 31 Agustus 2016 untuk mendistribusikan produk daging sapi yang akan diimpornya.

Selengkapnya...

Daging sapi beku eks impor yang dijual dengan harga murah diyakini mampu menurunkan harga daging secara nasional. Namun demikian, masyarakat masih memilih membeli daging sapi segar meski harganya lebih tinggi.

Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya, Sarman Simanjorang, mengakui bahwasanya daging sapi beku belum populer dimasyarakat, padahal kualitasnya sama. Bahkan daging sapi beku impor memiliki kelebihan dari sisi higienis, ketimbang daging segar yang dijual di pasar tradisional.

Sarman pernah meninjau secara langsung proses pemotongan daging sapi di Australia yang secara kualitas maupun kuantitas lebih unggul dibandingkan proses yang dilakukan di Indonesia. Menurut Sarman, ketidakpopuleran daging sapi beku di Indonesia disebabkan oleh faktor budaya saja. Oleh sebab itu ia mengimbau masyarakat agar tidak ragu membeli dan mengonsumsi daging beku yang dijual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan daging sapi segar.

Selengkapnya...