Swasembada Daging Sapi Gagal Terus Sejak 2005, Negara Rugi Rp18 Triliun

Sampai hari ini Indonesia masih bergantung pada impor sapi, terutama dari Australia dan Selandia Baru. Program swasembada daging sapi sudah dijalankan pemerintah lebih dari 10 tahun lalu dengan dana mencapai Rp 18 triliun pun tidak mampu mengurangi impor sapi dan daging.

---------------------------------------------------------

Tanggapan PPSKI melalui Sekjen Rochadi Tawaf

Menurut PPSKI,  carut marut daging sapi saat ini disebabkan oleh kegagalan program swasembada, yang dimulai dari zaman Pak Anton (Apriantono) dan dilanjutkan lagi oleh Suswono.  Dana APBN yang digunakan untuk program swasembada daging sapi yang mencapai 18 triliun bisa dikategorikan sebagai kerugian negara. Sebab, tidak ada hasil yang dicapai.

Berdasarkan program swasembada, dimana seharusnya pada tahun 2009 maksimal impor 50% dari kebutuhan nasional, justru mencapai puncaknya. Demikian juga pada saat akhir pemerintahan periode yang lalu, dimana nilai impornya tidak  jauh berbeda. Masalah menjadi semakin rumit, karena pemerintah kerap mengambil kebijakan yang kacau untuk menutupi kegagalan, dengan cara mengambil jalan pintas untuk mencapai swasembada daging sapi. Misalnya dengan penutupan impor secara mendadak, seperti yang dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) pada kuartal III-2015 lalu. Akibatnya pasokan daging sapi terganggu, harga meroket dan sulit dikendalikan

Bukti lain kegagalan program swasembada daging sapi ini adalah merosotnya populasi sapi di dalam negeri. Diperkirakan populasi sapi menurun hingga 2,5 juta ekor pada kurun waktu 2011-2013 akibat 'jalan pintas' yang diambil pemerintah.

Sumber : medanbisnisdaily.com