Pembatasan Impor Sapi Dan Jeroan Tidak Mengganggu Peternak Lokal

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Partogi Pangaribuan mengurangi izin impor dari kuartal I 2014 silam sebanyak 131.000 ekor, menjadi 100.000 ekor pada kuartal I tahun 2015, yang diberikan kepada 30 importir. Selain pembatasan impor sapi bakalan juga dilakukan larangan impor secondary cut dan jeroan. Pembatasan itu dilakukan mengingat pasokan sapi lokal mulai membaik dari sejumlah sentra peternakan sapi di wilayah Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengimpor Daging Indonesia (ASPIDI) Thomas Sembiring keberatan dengan kebijakan tersebut karena ia menilai sapi lokal belum siap memenuhi kebutuhan dalam negeri, juga dalam hal kualitas daging atau jeroan yang masih kalah kualitasnya dengan produk impor. Efeknya akan ada sejumlah rumah makan dan hotel yang selama ini menggunakan daging impor akan kewalahan.

Sumber : tribunnews.com

-----------------------------------------------

Tanggapan PPSKI, melalui Ketua Umum Teguh Boedyana

Pembatasan impor sapi bakalan dan impor secondary cut dan jeroan tidak menganggu pasokan dari sapi dan kerbau lokal milik peternak. Sebab pasokan sapi lokal di dalam negeri sudah mulai bertambah. Apalagi pembatasan impor sapi bakalan hanya sekitar 45% saja.

Saat ini, harga sapi lokal memang tinggi dibandingkan sapi impor.  Di pasaran harga sapi hidup sekitar Rp42.000 per kilogram, sedangkan sapi impor harganya Rp36.000 - Rp37.000 per kg. Kekhawatiran mengenai gagalnya swasembada karena sapi lokal tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri akibat impor jeroan dibatasi, terlalu berlebihan.

Sumber : tribunnews.com