Jika Harga Daging Rp80 Ribu, Potensi Kerugian 6 Juta Peternak Dengan 15 Juta Sapi Mencapai Rp70 Triliun

Daging sapi beku eks impor yang dijual dengan harga murah diyakini mampu menurunkan harga daging secara nasional. Namun demikian, masyarakat masih memilih membeli daging sapi segar meski harganya lebih tinggi.

Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya, Sarman Simanjorang, mengakui bahwasanya daging sapi beku belum populer dimasyarakat, padahal kualitasnya sama. Bahkan daging sapi beku impor memiliki kelebihan dari sisi higienis, ketimbang daging segar yang dijual di pasar tradisional.

Sarman pernah meninjau secara langsung proses pemotongan daging sapi di Australia yang secara kualitas maupun kuantitas lebih unggul dibandingkan proses yang dilakukan di Indonesia. Menurut Sarman, ketidakpopuleran daging sapi beku di Indonesia disebabkan oleh faktor budaya saja. Oleh sebab itu ia mengimbau masyarakat agar tidak ragu membeli dan mengonsumsi daging beku yang dijual dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan daging sapi segar.

Namun demikian, Sarman menekankan kepada Pemerintah agar tidak menjual daging sapi beku impor di pasar tradisional. Alasannya, kelangsungan usaha para pedagang daging sapi segar akan terganggu, karena jelas ada perbedaan harga antara daging sapi beku dengan daging sapi segar.

Menanggapi daging sapi beku impor yang harganya murah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati memastikan bahwa hal itu akan menimbulkan kerugian di kalangan peternak dan pedagang tradisional. Yang diuntungkan hanyalah para pengusaha yang memiliki akses impor daging sapi.

Menurut Enny, lebih dari enam juta peternak dengan lebih dari 15 juta sapi akan menanggung potensi kerugian mencapai Rp70 triliun. Dasar perhitungannya, jika ingin harga daging sapi lokal Rp80 ribu per kg, maka harga sapi hidup yang saat ini Rp45 ribu per kilogram bobot hidup harus turun menjadi Rp30 ribu.

Enny juga menyebut keinginan pemerintah menurunkan harga daging sapi menimbulkan kejanggalan dan spekulasi. Seharusnya kebijakan harga berdasarkan biaya produksi daging sapi lokal, bukan pada impor daging beku yang belum jelas kualitasnya.

Sumber : republika.co.id

----------------------------------------------

Tanggapan PPSKI melalui SekJen Rochadi Tawaf

Daging sapi beku eks impor memang dapat mempengaruhi harga tapi tidak akan signifikan, sebab permintaan akan daging sapi segar tetap tinggi. Apalagi pada saat Ramadhan dimana masyarakat lebih menyukai daging sapi segar dibandingkan dengan daging sapi beku.

Jika ingin harga daging sapi bisa lebih murah, Pemerintah harus memiliki data yang jelas mengenai pasokan dan permintaan pasar. Jangan seperti sekarang ini dimana terdapat berbagai data dengan beragam versi dan kepentingan.

Yang harus diingat, Pemerintah juga memiliki kewajiban untuk memperhatikan keberadaan para peternak dan pengusaha daging lokal yang pasti merugi apabila daging beku impor tersebar di pasar tradisional.