Benarkah Ada Nama Politikus Besar Dibalik Kontroversi Pemberian Ijin Impor Daging Sapi ?

"Evita"...... sebuah nama yang membuat heboh dunia produk peternakan sapi beberapa hari terakhir ini. Evita bukanlah seorang wanita cantik, melainkan nama sebuah perusahaan yaitu  PT Evita Manunggal, yang konon khabarnya adalah pemain baru dibidang impor daging sapi, namun memperoleh keistimewaan dari Kementrian Perdagangan untuk mengimpor daging sapi beku sebanyak 9.000 ton.

Ada isyu tak sedap juga yang mengatakan proses pemberian kuota kepada PT Evita Manunggal tidak berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Pertanian (Kemtan). Penunjukan PT Evita Manunggal tersebut pun sontak memicu kontroversi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Sapi Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring memastikan tidak pernah tau tentang PT Evita Manunggal, dan perusahaan tersebut tidak terdaftar sebagai anggota Aspidi. Artinya, PT Evita Manunggal adalah pemain baru.

Berdasarkan peraturan pemerintah, perusahaan pengimpor daging sapi harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain memiliki gudang serta alat transportasi sendiri. Oleh sebab itu Thomas mempertanyakan pemberian izin impor kepada PT Evita Manunggal, sebagai perusahaan baru tentunya akan sulit memenuhi persyaratan tersebut.

Disisi lain, Sekjen PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) Rochadi Tawaf meragukan kemampuan PT Evita Manunggal yang tergolong pemain baru. Tanpa jaringan distribusi sampai ke pedagang yang akan memasarkan daging sapi tersebut apa mungkin PT Evita Manunggal mampu membantu Pemerintah untuk menurunkan harga daging sapi?

Menanggapi kemelut tersebut, sejak beberapa hari yang lalu Media online kontan.co.id mencoba menyelusuri tentang kepemilikian PT Evita Manunggal ini. Hasilnya sungguh diluar dugaan, karena mengarah kepada Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Oesman Sapta Odang.

Selain sebagai politikus, Oesman adalah pengusaha besar pemilik OSO Group yang bisnisnya menggurita, mulai dari percetakan, pertambangan, air mineral, properti, perkebunan, perikanan, transportasi, komunikasi, sampai perhotelan. Tak hanya itu, Oesman tak lain  adalah Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Organisasi inilah yang menggelar Bakti Partisipasi HKTI "Daging Sehat dan Murah" di Masjid Baiturrahman, Jalan Dr. Sahardjo, Menteng Selatan, Jakarta beberapa waktu yang lalu. Bekerja sama dengan PT Evita Manunggal, HKTI menjual 1.000 ton daging sapi dengan harga Rp 75.000 per kilogram (kg), jauh lebih murah dari harga daging sapi di pasaran saat ini.

Namun, Oesman membantah memiliki dan terkait dengan Evita Manunggal. Menurutnya pemilik Evita Manunggal bernama Nur, yang merupakan pemain lama di bisnis peternakan sapi. Bahkan Oesman menuduh hebohnya pemberitaan tentang PT Evita Manunggal adalah ulah para pelaku kartel daging sapi.

Meski begitu, Oesman mengakui, dirinya ikut dalam pertemuan antara Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan pemilik Evita Manunggal sekitar dua bulan lalu di Jakarta, yang memutuskan untuk memberikan kuota impor daging sapi beku kepada PT Evita Manunggal.

Sumber : Kontan.co.id