Belum Diputus Jadi, Jeroan Dan Daging Impor Sudah Ditolak 3 Provinsi

Langkah pemerintah mengimpor jeroan dan daging sapi terus mendapatkan protes. Selama sepekan kemarin, setidaknya ada tiga Pemprov menolak jeroan dan daging ker­bau impor. Mereka yakni, Pem­prov Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Kalimatan Barat (Kalbar).

Penolakan terhadap jeroan pertama kali dilakukan Pemprov Kalbar. Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Pemprov Kalbar Abdul Manaf Mustafa menolak impor jeroan dengan alasan pangsa pasar belum meningkat. Bahan baku untuk pedagang bakso, rumah makan dan masyarakat masih terpenuhi dari pemotongan lokal. Artinya, Kalbar tidak membutuhkan jeroan impor. Alasan lain adalah masalah kesehatan. Menurut Abdul, mengkonsumsi jeroan dapat memicu kolesterol tinggi.

Tiga hari berikutnya Gubernur Jatim Soekarwo, yang melarang daging kerbau dan jeroan impor masuk ke wilayahnya. Bahkan berjanji akan mengeluarkan surat edaran agar dua komoditas itu tidak masuk ke wilayah Jatim. Menurutnya masyarakat Jatim lebih senang mengkonsumsi daging sapi ketimbang kerbau. Daging kerbau kurang diminati karena seratnya yang besar. Demikian juga dengan jeroan.

Alasan lain ialah potensi penurunan harga daging sapi di pasar. Dengan 4,3 juta produsen sapi, angka kelahiran sapi mencapai 1,1 juta ekor. Padahal wilayahnya hanya mem­butuhkan 500 ribu sapi.

Dan terakhir, penolakan disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jateng Withono pada Jumat (22/07). Alasannya, produksi daging di wilayah Jateng sudah mencukupi kebutuhan masyarakat. Bahkan sudah surplus sehingga bisa mendistribusikan ke wilayah lain.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan penolakan tersebut. Menurutnya, impor jeroan dan daging kerbau memang dilakukan sebagai alternatif pilihan supaya masyarakat bisa membeli daging dengan harga terjangkau. Agung memahami, Pemprov yang melakukan penolakan. Karena, mereka memang ber­hasil surplus produksi sapi.

Agung menegaskan, pihaknya di dalam memutuskan impor selalu berupaya menyesuaikan dengan kebutuhan. Pembukaan impor jeroan dan daging kerbau hanya bersifat sementara. Misalnya impor jeroan. Impor dilakukan dengan tujuan mengintervensi harga daging sapi yang sangat tinggi. Jadi, impor jeroan dan daging kerbau bisa dilarang kembali jika kebutuhan daging sapi baik beku maupun segar sudah tercukupi.

Senada dengan Agung, Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu memastikan pihaknya tidak akan mengirim daging impor ke wilayah yang sudah surplus sapi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Fokusnya hanya Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, terutama Bandung.

Sumber : www.rmol.co

-----------------------------------------------------------

Tanggapan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana

PPSKI sangat mendukung Pemprov yang menolak jeroan dan daging kerbau impor, karena mereka punya pemikiran sejalan dengan peternak. Karena, masuknya varietas seperti daging kerbau dan jeroan akan memukul harga daging yang sudah terbentuk di pasaran.