Membedah Bisnis Sapi Kurban

Tulisan ROCHADI TAWAF, Sekretaris Jenderal DPP Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) di KOMPAS.com

Maraknya perdagangan hewan kurban di berbagai kota dengan investasi yang cukup besar kini mulai tampak dengan bisnis yang tertata rapi. Banyaknya orang yang berbisnis hewan kurban mengindikasikan bahwa bisnis ini sangat menggiurkan dengan keuntungan yang tidak sedikit.

Pada dasarnya tingginya keuntungan dalam bisnis hewan kurban terutama disebabkan tidak transparannya transaksi antara konsumen dan produsen. Hal itu cenderung merugikan konsumen, yaitu dengan bertambahnya penikmat bebas di antara produsen dan konsumen.

Pasalnya, pembeli hewan kurban umumnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang ternak yang akan dibeli. Mereka cenderung melakukan transaksi dilandasi dengan tingkat emosional yang sangat tinggi (panic buying). Dalam bahasa sehari-hari, orang menyebutnya beli bogoh. Pada kondisi seperti ini posisi tawar konsumen sangat lemah mengingat mungkin akan sangat sulit menemukan lagi hewan kurban dengan kondisi dan kualitas yang dikehendaki.

Pada umumnya pembeli hewan kurban merupakan orang-orang yang mampu dan akan membeli ternak pada kurun waktu pendek. Pengertian orang mampu adalah mereka telah mempersiapkannya, mulai dari niatan dengan dananya secara bersama. Pada kondisi seperti itu boleh pula dikatakan sangat tidak mungkin konsumen menggagalkan pembeliannya untuk melakukan kurban tahun ini dan menangguhkannya sampai tahun depan.

Jika harga hewan kurban cukup mahal dan tidak terjangkau dengan dana yang tersedia, ia akan mengalihkannya ke ternak yang lebih murah. Perilaku inilah yang dimanfaatkan penikmat bebas untuk meraup keuntungan. Seolah para penikmat bebas ini menjadi dewa penolong konsumen dengan pelayanan sampai di rumah.

Dari sisi peternak, momen Idul Adha ini telah dipersiapkan lama, bahkan cenderung merupakan pasar andalannya ketimbang hari-hari biasa. Peternak sadar betul, tanpa repot-repot memelihara ternaknya secara intensif untuk menaikkan produksi (berat badan), toh dengan menghitung selisih harga saja otomatis ia sudah mendapatkan keuntungan.

Perilaku produsen seperti ini dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis (pedagang perantara/belantik) dengan memberikan imbalan lebih kepada peternak untuk mendapatkan kepastian pasokan di pasar.

 

Tidak Sehat

Berdasarkan fenomena tersebut, bisnis hewan kurban telah berkembang menjadi industri besar dengan jaringan usaha yang menasional dan banyak dikelola oleh lembaga profesional karena menjanjikan keuntungan yang menggiurkan. Namun, jika dicermati, ketidaktransparanan bisnis hewan kurban menunjukkan bahwa bisnis ini tidak sehat dan harus segera dibenahi untuk dapat meningkatkan produktivitas dan iklim usaha peternakan yang kondusif.

Pembenahan yang utama ditujukan agar tercipta pemerataan dan keadilan dalam perolehan keutungan usaha sesuai dengan risiko yang dihadapi para pelaku bisnis tersebut. Sebab, selama ini ketidaktransparanan harga yang terbentuk di konsumen sampai ke produsen telah menimbulkan munculnya para penikmat bebas.

Menjelang hari raya Idul Adha ini pemerintah tidak sibuk seperti menghadapi Idul Fitri. Di hari raya Idul Fitri, kenaikan harga daging membuat sibuk pemerintah untuk melakukan operasi pasar, bahkan dengan berbagai upaya, untuk menjaga agar harga daging sapi tidak naik. Sebab, kenaikan harga daging disinyalir akan turut memicu inflasi, yang pada akhirnya turut pula mengganggu perekonomian nasional.

Apakah dampak pasar sapi di hari raya kurban berbeda dengan Idul Fitri? Mungkin penyebab utamanya, di hari raya kurban pembeli sapi adalah orang yang mampu dan memiliki dana. Setelah itu, dagingnya didistribusikan kepada orang yang tidak mampu. Jadi, tidak ada upaya “memaksa” rumah tangga konsumen untuk mengeluarkan sejumlah dana bagi kegiatan konsumtif. Adapun di pasar Idul Fitri, keadaannya berkebalikan, seolah ada pemaksaan rumah tangga untuk mengonsumsi daging. Akibatnya, pembelian terjadi dengan tingkat emosional tinggi.

 

Bukan Adu Taksir

Apa yang harus kita lakukan agar kenaikan harga daging berlangsung normatif, khususnya di hari raya kurban, agar perekonomian nasional tidak terganggu serta peternak dapat tumbuh dan berkembang kondusif? Inti persoalannya adalah ketidaktransparanan bisnis dalam perdagangan hewan kurban. Maka, ada berbagai tindakan yang perlu diambil untuk menciptakan transparansi bisnis.

Konsumen sebaiknya memahami produk yang akan dibelinya. Caranya melalui sosialisasi atau penjelasan tentang hewan kurban dengan segala implikasinya. Selama konsumen tidak memahami ini, yang terjadi ibarat membeli kucing dalam karung. Artinya, konsumen tidak akan pernah tahu dan paham bahwa harga yang dibayarkan sesuai dengan kualitas hewan yang dibelinya.

Dengan meningkatkan pengetahuan konsumen, transaksi jual beli menjadi normatif dan tidak terjadi panic buying. Dampaknya, harga yang terbentuk pun akan mengikuti norma bisnis yang berlaku. Hal yang paling sederhana, transaksi pembelian didasarkan pada timbangan berat badan dengan disaksikan pihak-pihak terkait, bukannya dengan cara taksir seperti yang berlaku saat ini.

Hal ini sepertinya mudah, tetapi agak sulit dilaksanakan karena pedagang tidak menyiapkan hal tersebut. Pada kondisi inilah peran pemerintah diperlukan untuk menyediakan timbangan ternak di pusat-pusat penjualan hewan kurban. Untuk itu, pemerintah harus mengumumkan sentra penjualan ternak dengan standar operasi dan prosedur yang wajib diikuti pedagang hewan kurban.

 

Pada kasus ini, selayaknya pemerintah, badan-badan usaha swasta, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bisnis ini segera menyebarluaskan tata cara pembelian dan pengolahan daging kurban. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat Muslim dapat melaksanakannya dengan mudah dan murah. Mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pelaksanaan pemotongan hewan kurban merupakan kewajiban kaum Muslim.