Jangan Hanya Membantu Importir, Pemerintah Wajib Memikirkan Nasib Peternak !

Selama ini, Indonesia mengimpor daging sapi dari Australia, India, Amerika Serikat, Selandia Baru, Kanada, dan Jepang. Sebagai upaya untuk mendapatkan daging sapi dengan kualitas dan harga yang lebih bersaing, Pemerintah  berencana membuka keran impor daging sapi dari Spanyol dan beberapa negara Amerika Latin seperti Meksiko, Argentina, dan Brasil.

Pembukaan keran impor tersebut diyakini oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tidak akan mengganggu peternakan dalam negeri. Karena, pemerintah akan membuat sinergi antara perusahaan-perusahaan importir sapi bakalan dengan peternakan-peternakan kecil dalam jangka panjang.

Caranya, dengan meminta kompensasi impor bibit kepada Feedloter yang mengimpor sapi bakalan. Dari bibit itu, feedloter tersebut harus melakukan pembiakan untuk ternak sapi potong maupun sapi perah. Sebagian dari hasil pembiakan tersebut (untuk rasionya Mendag akan meminta Feedloter untuk mengajukan proposal) kemudian dijual kepada peternak kecil untuk digemukkan.

Dengan cara itu, para peternak kecil yang orientasi investasinya jangka panjang diharapkan akan dapat menikmati keuntungan dengan memadukan usahanya pada pola investasi jangka pendek. Sedangkan pengusaha feedloter yang semula selalu terbiasa investasi jangka pendek akan diajak mengkombinasikan usahanya untuk jangka panjang.

Tujuan dari skim tersebut adalah untuk mendukung program swasembada daging sekaligus tata niaga yang kondusif bagi penciptaan nilai tambah bagi industri peternakan nasional. Hingga nantinya Indonesia tidak perlu impor daging sapi lagi.

---------------------------------------------------------------------------------

Tanggapan Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), melalui SekJen Rochadi Tawaf

Berdasarkan UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, pengembangan peternakan sapi potong merupakan tanggung jawab pemerintah. Tidak seperti sekarang ini,  penyediaan bibit atau bakalan sepenuhnya diserahkan kepada kemampuan peternakan rakyat.

Sementara peternakan rakyat menguasai populasi ternak sapi 98 persen secara nasional, kemampuan untuk berkontribusi dalam penyediaan daging sapi secara nasional sekitar 80 persen saja. Bandingkan  dengan perusahaan peternakan yang menguasai sekitar 2 persen dari populasi ternak, ternyata mampu berkontribusi 20 persen terhadap konsumsi nasional.

Berdasarkan fenomena tersebut, industri peternakan seharusnya dapat berperan bagi percepatan kemandirian dalam ketersediaan pangan protein hewani asal daging sapi. Tentunya dengan melakukan kerja sama dengan peternakan rakyat. Dan sudah saatnya pemerintah menjalin kemitraan dengan peternakan rakyat, karena selama ini insentif lebih banyak diberikan kepada perusahaan pengimpor.

Sumber : metronews.com