Siapa Bilang Hewan Sapi Tak Cocok Diternakkan Di Balikpapan ?

Masyarakat Balikpapan dulunya bersikap pesimistis dan ragu untuk beternak sapi dengan berbagai alasan, seperti lahan yang tidak cocok dan cuaca yang ekstrem.

Padahal, menurut keterangan Kepala Dinas Peternakan Pemprov Kaltim, Dadang Sudarya, usaha ternak sapi cukup menjanjikan karena konsumsi daging sapi di Balikpapan cukup tinggi mencapai 30 sampai 35 ekor per hari, sedangkan populasi ternak relatif terbatas. Pada akhirnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus mendatangkan hewan ternak itu dari luar Balikpapan.

Kini semua berubah setelah masyarakat mulai mengenal bibit unggul, kebun rumput, dan teknologi IB. Pada awalnya banyak peternak meragukan teknik IB dan menganggapnya sesuatu yang sia-sia. Sekarang, masyarakat justru mengharapkan ternak sapinya dapat dikawinkan dengan sapi hasil IB. Sebab sapi IB unggul secara genetik yakni ras, bobot, dan warna. Bahkan, ternak sapi yang dulu hanya sebagai sampingan, kini sudah jadi pekerjaan utama.

Hal itu terlihat dari jumlah hewan ternak sapi yang terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (DPKP) Balikpapan, pada 2008 hanya ada 808 ekor populasi sapi. Tahun ini, jumlah populasi sapi melesat menjadi 3.200 ekor yang dipelihara oleh 500 orang orang peternak.

Menurut Ketua DPD Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Balikpapan, Agus Feriyanto, Balikpapan yang mendapat julukan sebagai Kota Minyak memang memiliki potensi sebagai wilayah peternakan. Sebagai contoh adalah di Gunung Binjai Teritip, saat ini hampir semua penduduknya beternak sapi, bahkan telah diarahkan menjadi daerah wisata ternak. Perkembangan ini tidak lepas dari adanya penggunaan teknologi Inseminasi Buatan (IB), yang dilakukan sejak tahun 2010.

Pengetahuan dan ketrampilan teknik IB, diperoleh DPKP Balikpapan dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, BBIB Lembang, dan BBIB Ungaran. Kemudian untuk pembinaan kepada peternak sapi dilakukan dengan cara membuat program pelatihan di bidang pemanfaatan limbah pertanian, penggunaan pakan fermentasi, teknik pakan silase, dan lainnya.

Pemprov Kaltim juga membantu dengan mengalokasikan anggaran dari APBD II untuk keperluan pengadaan ternak bibit. Sedangkan dana APBD I dan APBN diprioritaskan untuk perkembangan di kabupaten. Khusus untuk kota Balikpapan, Pemprov fokus pada usaha penggemukan ternak sapi yang akan dijual pada momen Idul Adha. Contohnya seperti yang dilakukan peternak di Kelurahan Gunung Binjai.

Harapan PPSKI kedepan, produksi ternak sapi dapat memenuhi 50% kebutuhan akan sapi potong di Balikpapan yang saat ini mencapai 15 ribuan ekor per tahun. Termasuk untuk mengisi kebutuhan sapi kurban sebesar 1.300 ekor.

Sumber : kaltim.prokal.co