Apakah Usaha Pembibitan Sapi Menguntungkan ?

Berdasarkah analisa yang dilakukan oleh Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana, usaha breeding ternak sapi secara bisnis sesungguhnya kurang menjanjikan.

Coba bayangkan, peternak harus mengawinkan terlebih dulu sapi indukannya yang membutuhkan waktu  paling tidak selama tiga bulan, dan itu pun tingkat keberhasilannya meragukan karena belum tentu sekali kawin langsung bunting. Setelah bunting memerlukan waktu hingga sembilan bulan untuk mengandung kemudian melahirkan.

Setelah melahirkan, masih harus membesarkan sapi itu selama dua tahun hingga berat badannya mencapati rata-rata 200 kilogram (kg) sampai 250 kg untuk sapi lokal, dan 400 kg-500 kg untuk sapi hasil kawin silang. Jadi, butuh waktu hingga tiga tahun untuk dapat menjualnya dengan harga Rp40.000 per kg sapi hidup, atau sekitar Rp10 juta - Rp20 juta per ekor tergantung berat masing-masing sapi.

Parahnya, dari hasil penjualan tersebut tidak pernah jelas berapa keuntungannya, karena peternak rakyat tidak pernah menghitung dengan pasti biaya produksinya. Oleh sebab itu, PPSKI masih meragukan hitung-hitungan Kemtan terkait simulasi KUR untuk usaha breeding ini.

Untuk mengetahui biaya produksi ini, seharusnya Kemtan bisa memanfaatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan di sejumlah daerah yang melakukan pengembangan sapi. Terlebih selama ini, peternak rakyat belum merasakan manfaat dan fungsi dari UPT ini padahal sudah menyedot anggaran APBN. Harusnya, UPT-UPT tersebut bisa menjadi unit percontohan bagi swasta yang ingin terjun ke usaha breeding sapi.

Sumber : tribunnews.com