Apakah Kenaikan Harga Sapi Pada Saat Idul Adha Suatu Hal Yang Wajar ?

Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Teguh Boediyana, memastikan bahwa stok sapi  Qurban untuk tahun ini aman. Termasuk untuk Jabodetabek yang memang butuh perhatian khusus karena besarnya kebutuhan sapi kurban di wilayah ini.

Ramainya pasar hewan kurban di Jabodetabek jika dibandingkan dengan daerah lain, dipengaruhi faktor sosial ekonomi, dimana masyarakat muslim kelas menengah keatas banyak yang berdomisili di wilayah ini. Belum lagi didukung oleh suatu kepuasan batin dalam konteks ibadah bila mereka bisa berkurban sapi.

Sapi kurban yang masuk ke Jabodetabek berasal dari berbagai daerah. Pasokan terbesar tetap berasal dari pulau jawa, yaitu Jawa Timur, kemudian Jawa Tengah dan Yogyakarta. Untuk pasokan yang berasal dari luar Jawa datang dari NTT, NTB, dan Sumatera.

Sedangkan mengenai harga jual sapi kurban memang ada perbedaan dengan harga pada kondisi normal. Ada kenaikan sekitar 20%, berkisar antara Rp55.000 hingga Rp60.000, dibandingkan dengan hari biasa yang berada di angka Rp45.000 per kilogram berat hidup.

Kenaikan harga hewan pada saat Idul Kurban menurut PPSKI adalah  suatu hal yang wajar, karena para pedagang memang harus mengeluarkan tambahan biaya untuk memanjakan konsumen. Tanpa harus bersusah payah datang ke kandang di luar kota, para pembeli sapi kurban cukup datang ke lapak-lapak dan langsung bisa memilih sapi yang diinginkan.

Namun semua kemudahan itu memang harus dibayar oleh konsumen dengan kenaikan harga. Sebab, para pedagang tidak bisa menjual sapi sembarangan. Mereka harus memilih sapi yang benar-benar sehat, berkualitas dan sudah memenuhi persyaratan serta syariat untuk dipotong, sesuai surat dari Dinas Peternakan dan Pertanian.

Kemudian juga mengeluarkan biaya untuk memang menyewa lahan di lokasi yang strategis yang mudah dijangkau konsumen, biaya transportasi hewan dari tempat asal, membuat kandang penampungan sementara, menyediakan pakan dan minum, juga tenaga kerja untuk menjaga sapi kurban yang akan dijual.

Belum lagi tidak semua sapi kurban yang dipajang bisa laku terjual, dan harus menanggung kerugian dari susutnya bobot  karena stres yang dialami sapi kurban selama penjualan. Dan kondisi harga seperti tersebut diatas tidak akan bertahan lama. Harga akan normal kembali 2-3 hari setelah selesainya Idul Adha. Dengan sedemikian banyak biaya, pengorbanan dan resiko, sangat wajar bukan ? jika harga sapi kurban akan lebih mahal.

Sebagai informasi, dibawah ini ada beberapa harga sapi kurban dan kerbau kurban sesuai jenisnya antara lain :

  • Limosin, dengan berat 600 kilogram dijual dengan harga Rp24 juta (harga normal sekitar Rp19 hingga Rp21 juta).
  • Sapi P.O. (Sapi Jawa), dengan berat 500 kg dijual dengan harga Rp19 juta (harga normal sekitar Rp15 juta).
  • Sapi lokal (S.O, Bali, Madura), dengan berat 250 Kg dijual dengan  harga Rp9 juta, berat 300 Kg dengan harga Rp 12 juta dan berat 400 Kg sudah mencapai Rp 15 juta.
  • Kerbau untuk ukuran kecil dijual dengan harga  Rp8 juta per ekor, sedang Rp12 juta per ekor, dan kerbau tanduk turun mencapai Rp13 juta per ekor (harga ini mengalami kenaikan sekitar Rp300.000 hingga Rp 500.000, dibandingkan dengan harga normal).

Sumber: nasional.kini.co.id