Peternak Berusaha Memasok Daging Sapi Yang Higienis, Pemerintah Malah Mengimpor Daging Kerbau Yang Beresiko

Bagi warga Jabar, daging kerbau sebenarnya tidak terlalu asing. Namun untuk daging kerbau yang diimpor dari India, entah mengapa belum ada permintaan dari masyarakat. Mereka hanya sekedar bertanya karena penasaran seperti apa daging kerbau yang dijual dengan harga hanya Rp65.000.

Itu sebabnya hingga saat ini, Bulog Divre Jabar masih belum melakukan distribusi daging kerbau impor ke sejumlah daerah di Jabar, walaupun pasokan sudah tersedia termasuk rencana penambahan jalur distribusi. Demikian yang disampaikan oleh Ketua Bulog Divre Jabar, Alip Afandi.

Persatuan Pedagang Pasar dan Warung Tradisional (Pesat) Jabar melalui ketuanya Usep Iskandar Wijaya, tetap menolak upaya pemerintah untuk menurunkan harga daging sapi dengan cara mengimpor daging kerbau dari India. Penyebabnya, harga tidak akan turun karena konsumen yang biasa membeli daging sapi segar sulit untuk beralih ke daging kerbau beku. 

Artinya, permintaan terhadap daging sapi segar akan tetap tinggi. Demikian juga dengan harganya juga tentu saja akan bertahan. Pemerintah seharusnya harus belajar dari kegagalan upaya sebelumnya, yakni impor daging sapi beku untuk menurunkan harga daging sapi segar.

Bila dengan daging sapi beku saja tidak efektif, apalagi menggunakan daging kerbau beku yang jelas-jelas tekstur dan rasanya berbeda.

-----------------------------------------------------

Tanggapan Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), melalui Sekjen Rochadi Tawaf

Walaupun daging kerbau impor asal India sudah terlanjur masuk ke Indonesia, PPSKI tetap pada sikapnya untuk menolak daging impor asal negara yang belum bebas Penyakit Mulut dan Kuku.

Adapun terkait Sanitary and Phytosanitary (SPS) Agreement yang dilakukan oleh pemerintah pusat, PPSKI menilai perlu adanya transparansi terkait standardisasi yang dilakukan pemerintah dalam melakukan seleksi atau pemeriksaan terhadap daging kerbau impor asal India.

Apalagi sampai saat ini para peternak sapi hingga saat ini terus berusaha memasok daging yang segar dan higienis. Masuknya daging impor asal India sebetulnya memiliki risiko tinggi bagi para konsumen, sayangnya hal itu justru dilakukan oleh pemerintah.

PPSKI juga meminta pemerintah untuk menjamin transparansi pemasarannya dan tidak membodohi masyarakat. Maksudnya, konsumen harus mengetahui dengan jelas, bahwa daging yang dibeli seharga Rp 65.000 per kg itu adalah daging kerbau impor, jangan sampai disamarkan, atau bahkan dicampurkan dengan daging lainnya.

Sumber : www.pikiran-rakyat.com