Paradigma Masyarakat Indonesia Tentang Susu Sapi Harus Diubah !

Konsumsi susu orang Indonesia tergolong rendah, yaitu hanya 13 liter per kapita per tahun. Parahnya lagi, sebagian besar susu yang diminum adalah produk impor berupa susu bubuk yang dijual sebagai susu skim ataupun susu kental manis, bukan susu segar yang langsung bersumber dari sapi perah.

Kenyataan tersebut sungguh merugikan negara kita karena,

  • Pertama; untuk memenuhi kebutuhan akan susu sapi di Indonesia yang mencapai 3,3 juta ton per tahun, peternak lokal hanya mampu memasok 20%-nya saja. Artinya 80%-nya atau sekitar 2,6 juta ton harus diimpor, yang sebagian besar didatangkan dalam bentuk bubuk.
  • Kedua; susu kental manis adalah produk yang membahayakan kesehatan, karena 80%-nya adalah gula dan lemak yang berpotensi menyebabkan penyakit gula dan obesitas. Pada anak-anak, akan memicu batuk berkepanjangan, yang berasal lendir yang tertinggal pada tenggorokan. Akibatnya, pernafasan terganggu sehingga anak harus batuk untuk mendorong sumbatan lendir itu. Dalam jangka panjang susu kental manis adalah oksidan (disebut juga sebagai radikal bebas), yaitu molekul-molekul yang sangat reaktif di dalam tubuh dan merusak bio molekul penting di dalam sel-sel, termasuk DNA. Jika dikonsumsi oleh anak-anak,  secara bertahap dapat melemahkan daya tahan tubuh, sehingga akan mudah diserang penyakit pada dewasa kelak, seperti serangan jantung, kanker hingga penuaan dini.

Mengapa masyarakat lebih suka mengkonsumsi susu bubuk dan susu kental manis ?. Penyebabnya, selain terpengaruh iklan dari perusahaan susu, juga karena infrastruktur pendukung untuk distribusi susu segar baru terbangun beberapa tahun belakangan.

Contohnya, tidak semua rumah tangga memiliki alat pendingin untuk menyimpan susu, sehingga tidak ada pilihan selain menyimpan susu dalam bentuk bubuk. Persoalan lain adalah pengetahuan tentang manfaat dan bahaya susu sapi segar ataupun susu bubuk belum merata.

Semoga dengan berkembangnya tingkat ekonomi serta teknologi informasi bisa merubah keadaan menjadi lebih baik. Demikian yang dikatakan oleh Rochadi Tawaf, Sekjen PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) pada Diskusi Industri Peternakan Sapi Perah Indonesia, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa (8/11/2016).

Sumber : finance.detik.com