Harga Daging Sapi di Tahun 2017 Dipastikan Tetap Diatas Rp100.000

Proyeksi harga daging sapi 2017 masih jauh dari keinginan pemerintah pusat, yaitu Rp 80 ribu per kg. Ada beberapa versi harga dari para pemangku kepentingan di sektor peternakan sapi, namun semuanya berada diatas angka Rp100.000, yaitu :

1.Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI)

Menurut Ketua organisasi yang mewakili para peternak ini, Teguh Boediyana, akan sulit untuk mengupayakan harga Rp 80 ribu per kg, kecuali untuk daging impor. Hal itu terjadi karena harga sapi hidup berkisar Rp45 ribu per kg.

2.Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi Jawa Barat

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi Jawa Barat Satia Sriwijayanti mengungkapkan, harga daging sapi segar di berbagai pasar tradisional wilayah Kota Bekasi sepanjang 2016 relatif tetap di kisaran Rp 120 ribu per kg.

Walaupun sudah digelontor dengan daging impor, harga daging lokal tetap tinggi. Sepertinya konsumen daging sapi lokal tetap setia dan tidak terpengaruh oleh keberadaan daging impor karena berbagai alasan. Dengan data tersebut, ia memprediksi harga daging sapi masih tetap Rp 120 ribu per kg pada tahun depan. Situasi politik jelang pilkada serentak 2017, menurut Satia, tidak akan signifikan memengaruhi harga daging sapi.

 3.Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo)

Wakil Ketua Dewan Gapuspindo menyatakan bahwa akan ada kekurangan stok sapi bakalan pada tahun 2017. Izin terakhir impor sapi bakalan yang diberikan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) hanya ada sekitar 173 ribu ekor sapi yang sedang digemukkan dan siap dipotong untuk disebarkan pada awal tahun depan.

Padahal, berdasarkan perhitungan Gapuspindo, kebutuhan daging sapi segar untuk kuartal I 2017 bisa mencapai 240 ribu ekor sapi. Artinya, ada kekurangan sekitar 67 ribu ekor dengan rata-rata satu ekor sapi bobotnya bisa mencapai 500 kilogram (kg).

 4.Komisi IV DPR

Firman Soebagyo menegaskan, sulit untuk menurunkan harga daging sapi karena beberapa sebab:

Pertama adalah harga dikendalikan oleh pedagang dan importir. Oleh sebab itu, ia meminta Kemendag dan Kementan perlu mengajak pihak swasta, dalam hal ini pelaku usaha dan importir, untuk merumuskan harga daging sapi yang tidak memberatkan konsumen tetapi tetap menguntungkan bagi mereka. Misalnya, jika telah ditetapkan harga batas atas dan bawah untuk daging sapi, maka perlu diimbangi dengan sanksi yang tegas.

Kedua adalah, tingginya biaya distribusi karena posisi feedloter berada jauh dari konsumen, antara lain ada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Maka, mata rantainya harus dipangkas.

Ketiga adalah belum adanya pemetaan kebutuhan daging nasional yang jelas. Ketidakjelasan itu membuat sentra daging sapi, terutama yang terkait dengan penyuplai, masih dapat dimainkan mafia importir dan pedagang besar untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.


Sumber : republika.co.id