Efek Daging Beku Asal India, Terjadi Penurunan Harga Sapi Dan Daging Lokal Hingga 50%

Kebijakan pemerintah membuka impor daging beku asal India dalam jangka panjang dikhawatirkan mematikan usaha peternakan rakyat di Tanah Air. Tanda-tandanya sudah terlihat, yaitu terjadinya penurunan harga sapi hidup dan daging sapi lokal hingga 50 persen, termasuk jumlah pemotongan di rumah potong hewan (RPH) karena kebutuhannya diisi oleh daging beku India.

Jika kondisi ini dibiarkan, tidak akan ada lagi peternak sapi rakyat. Padahal jumlah pelaku usaha peternakan rakyat di Tanah Air cukup besar, mencapai 5,5 juta kepala keluarga dengan populasi sapi sebanyak 20,5 juta ekor. Dapat dipastikan akan terjadi dampak sosial, politik dan ekonomi di pedesaan.

Pada akhirnya, Indonesia hanya bisa menjadi negara pengimpor. Seperti Filipina,  yang sekarang sangat tergantung pada impor. Demikian yang dikatakan oleh Ketua PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi Dan Kerbau Indonesia), Teguh Boediyana. Jika hal itu terjadi, merupakan pekerjaan berat bagi pemerintah untuk membangkitkan kembali usaha peternak rakyat. Oleh sebab itu, Teguh terus mempertanyakan komitmen pemerintah pada peternakan rakyat.

Sekjen PPSKI Rochadi Tawaf menambahkan, pemerintah seolah menghambat pertumbuhan peternakan rakyat. Antara lain dengan cara mengintervensi bisnis sapi potong lokal, melalui kebijakan menggelontor pasar dengan daging impor beku. Akibatnya, peternak lokal sudah tidak lagi berorientasi pada bisnis ternak sapi potong harian melainkan sudah berpindah menjadi bisnis jual beli sapi hidup dalam rangka Idul Adha (Lebaran Haji).

Harga ternak saat Idul Adha memang lebih tinggi dibandingkan puasa maupun Idul Fitri. Sebagai contoh,  harga sapi hidup saat Idul Adha mencapai sebesar Rp60.000-Rp65.000 per kg sementara hari-hari biasa hanya Rp47.000 per kg hidup.

Sumber: skalanews.com