Rachmat - Dewan Pakar

Nama Lengkap   :   Dr. Ir. Rachmat Setiadi MS
Jabatan di PPSKI
  :    Dewan Pakar
Pekerjaan   :   Konsultan Peternakan
Domisili   :   Bandung

 

Doktor sosial ekonomi peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung ini mengaku pernah mengikuti tes bakat. Hasilnya, peternakan adalah bidang yang cocok digelutinya. Berdasar hasil tes, ia direkomendasikan dengan urutan prioritas menjadi dosen, kemudian birokrat dan terakhir swasta. Ketika ditanya lebih lanjut tentang bidang yang disukai, ia menjawabnya di bidang peternakan.

Setelah itu Rachmat mengikuti tes untuk menjadi pegawai Pemda dan diterima di Dinas Peternakan.  Rupanya pilihan ayah empat anak ini tidaklah salah. Bakat dan kemampuannya terbukti saat berhasil mencapai jenjang karier tertinggi sebagai orang nomor satu di Dinas Peternakan Jawa Barat.

Sebagian besar masa kerjanya memang dihabiskan untuk mengabdi di bidang peternakan. Meski sempat menjabat sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Jawa Barat. Jenjang karier pun dimulai dari bawah, diawali sebagai staf biasa, kepala seksi, kepala dinas peternakan tingkat kabupaten, kepala sub dinas tingkat provinsi, hingga puncaknya, 5 Oktober 2005 ia menjabat kepala dinas peternakan Provinsi Jawa Barat.

Pria yang juga lulusan program pascasarjana jurusan Ilmu Ternak Institut Pertanian Bogor ini bertekad menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi termaju di bidang peternakan. Secara nasional Jawa Barat masih di urutan ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Walaupun pada komoditas ternak ayam Jawa Barat lebih unggul, karena memiliki breeder, pabrik pakan, dan pabrik obat kita juga ada. Itu sebabnya Jawa Barat bisa memasok provinsi yang lain.

Menanggapi rencana Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, yang bakal melarang masuknya ayam hidup ke ibukota. Racmat mampu melihat fenomena ini dari sudut positif. Logikanya, mau tidak mau Jawa Barat harus mampu menjadi produsen karkas bagi wilayah tersebut. Artinya, sebuah peluang besar bagi Jawa Barat. Yang perlu dilakukan adalah merencanakan lokasi sebuah RPA yang memenuhi persyaratan dengan lokasi berdekatan perbatasan Jawa Barat-Jakarta, Purwakarta misalnya.

Satu catatan kecil tentang ribut-ribut SK Mendagri atas pengendalian flu burung dan kebijakan DKI Jakarta melarang adanya unggas di pemukiman, Racmat sebagai pemegang otorita peternakan berupaya meyakinkan pada Gubernur Jabar untuk tidak gegabah turut dalam pemberlakuan peraturan tersebut.

Jawa Barat punya karakter daerah yang berbeda. Dan faktanya, peternakan menjadi salah satu potensi utama. Menurutnya, jika larangan itu diberlakukan bisa jadi bumerang. Sutiyoso mau mendengar dan mengambil kebijakan sesuai pemikirannya.

Satu hal yang selalu menjadi perhatian khusus Rachmat adalah komoditas ternak sapi potong yang produktivitasnya jauh di bawah Jawa Timur. Populasi bibit di Jawa Timur pada saat itu mencapai 2,5 juta ekor, sementara Jawa Barat baru sekitar 240 ribu ekor.

Untuk menjalani hidup, pria yang mempunyai hobi bermain musik dan olah raga ini memiliki moto hidup yang mantap yaitu "Jadilah kamu laksana emas!". Menurutnya, manusia harus seperti emas, yang selalu menarik dimanapun berada. Dan setiap individu harus bisa bermanfaat bagi orang lain. Bagi dirinya, azas manfaat adalah ukuran kesuksesan seseorang.

Berbuat baik saja tidaklah cukup, jika tidak  berbuat kebaikan juga untuk orang lain. Walaupun saya adalah orang yang paling kaya, jika tidak bermanfaat bagi orang lain itu belum sukses namanya,? demikian papar suami Ir Sri Susiati, Kepala Sub Dinas Pengawasan Mutu di Dinas Pertanian Kota Bandung.

Komentarnya tentang generasi muda, peraih gelar mahasiswa teladan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1976 ini berpendapat, masa depan suatu bangsa tidak semata-mata terletak pada generasi mudanya, tetapi justru terletak pada kreativitas individunya. Menurutnya anak muda yang tidak kreatif tentu akan kalah dengan orang tua yang kreatif. Walaupun umurnya sudah sangat tua.

Tentunya generasi muda yang kreatif dan produktif, itu yang saya dan bangsa ini harapkan. Prinsipnya, bangsa ini harus dibangun oleh individu-individu yang kreatif dan produktif.

Tak Khawatir Pensiun

Bagi sebagian Pegawai Negeri Sipil (PNS), pensiun mungkin merupakan momok yang menakutkan, tetapi tidak demikian bagi Rachmat. Menurutnya pensiun sesuatu hal yang tidak perlu ditakutkan, karena waktunya sudah diketahui dengan pasti. Bagi seorang PNS, waktu pensiunnya adalah tanggal 1 bulan berikutnya setelah ulang tahun yang ke-56. Rachmat mencontohkan dirinya yang lahir 23 Desember 1951. Maka ulang tahun yang ke-56 akan terjadi pada 23 Desember 2007, jadi saat pensiun akan tiba pada tanggal 1 Januari 2008. Semua itu sudah jelas waktunya.

Lebih lanjut Rachmat bertutur, post power syndrome terjadi karena ketidaksiapan seseorang menghadapi waktu pensiun. Padahal jika semuanya sudah dipersiapkan sejak dini pasti akan lebih baik. Kita harus menyadari apa yang menjadi kelebihan manakala kita sedang menjabat? Dan ingatlah dari sekarang jika seandainya pensiun, fasilitas apa yang akan hilang? Kita harus mempersiapkan itu sejak sekarang, sehingga kita tidak terlalu terpukul ketika waktu pensiun datang.

Rachmat juga punya pemikiran, memasuki masa pensiun bukan berarti menurunnya produktivitas. Bagi dia, ada banyak hal positif yang dapat dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Saat ini saya juga mulai mengabdikan diri di bidang pendidikan. Yaitu menjadi dosen luar biasa di Fakultas Peternakan UNPAD. Paling tidak setelah pensiun nanti ia bisa lebih konsentrasi di kampus.

Rachmat mengatakan, bahwa semua yang dilakukan itu tidak hanya semata-mata untuk mengisi waktu luang saja, tetapi lebih kepada azas manfaat yang dapat ia diberikan untuk orang lain, yaitu ilmu yang bermanfaat. Dalam ajaran Islam, ada tiga amal kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir meski orang itu sudah meninggal. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak sholeh kepada kedua orang tuanya.

Sumber :  trobos.com